Thursday, July 09, 2020

Berbahagia Bersama Allah SWT

Adakalanya kita merasa kesepian atau tidak bahagia walaupun saat itu banyak orang di sekitar kita apalagi ketika kita benar-benar seorang diri ... jauh dari orang-orang tercinta; bagaimana menyikapi hal ini ? kebetulan ada message dari WAG mesjid dekat rumah yang mengirimkan link dari salah satu website yaitu muslim.or.id yang cocok dengan suasana hati yang sedang tidak bahagia ... yaitu dengan merasakan bahagia denganmendekatkan diri kepada pemilik kebahagiaan yang hakiki yaitu Allah SWT. Artikel tersebut dicopy-paste saja di blog ini ... semoga bermanfaat bagi diriku dan pembaca blog ini.

Saudaraku, Hendaknya kita MEMBIASAKAN dan benar-benar MENGUPAYAKAN agar bisa bahagia ketika sendiri yaitu ber-khalwat bersama Allah. Artinya sendiri tanpa ada manusia di sekitar kita. Memang kita akan senang atau bahagia ketika bersama manusia, atau berbahagia ketika melakukan kegiatan tertentu misalnya bekerja, membaca, melakukan hobi sendiri, akan tetapi kita harus bisa berbahagia ketika sedang ber-khwalwat bersama Allah.

Saudaraku, inilah yang kita lupakan atau bahkan tidak pernah terbesit dalam benak kita, yaitu berbahagia ketika sedang berkhalwat dengan Allah saja. Baik itu ketika sedang shalat malam, shalat dhuha, i’tikaf, sebelum tidur, sendirian di motor atau mobil. Hal ini akan melatih kita untuk tetap bahagia di saat-saat sendiri yaitu saat sendiri di alam kubur, tanpa anak-istri, tanpa saudara dan tanpa teman. Hanya ditemani amal dengan rahmat dari Allah.

Perhatikan hadits di mana seseorang merasa bahagia tatkala sendiri (berkhalwat dengan Allah), dia menangis bahagia karena terharu akan kasih sayang dan rahmat Allah yang begitu luas padanya, padahal ia adalah seorang pendosa. Atau dia menangis takut kepada Allah, takut Allah tidak memperhatikannya di dunia dan lebih-lebih di akhirat yang kita sangat butuh ampunan dan kasih sayang Allah.

Terdapat tujuh kelompok orang yang luar biasa, salah satunya adalah yang mengingat Allah dalam keadaan sendiri, kemudian ia menangis karena Allah.

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ في ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إلا ظلُّهُ ….، ورَجُلٌ ذَكَرَ اللَّه خالِياً فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; …. dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” [HR. Bukhari dan Muslim]

Para orang-orang shalih dahulunya sangat berbahagia dan sangat suka apabila, mata mereka bisa menangis karena Allah, karena itu adalah salah satu kabar gembira dan bukti keimanan. Seseorang tidak akan bisa sengaja atau menangis karena Allah, tetapi itu karena sentuhan iman ke hati.

Ka’ab Al-Ahbar berkata,

لأن أبكى من خشية الله فتسيل دموعي على وجنتي أحب إلى من أن أتصدق بوزني ذهباً

“Sesungguhnya mengalirnya air mataku sehingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas yang besarnya seukuran tubuhku.” [Fashul Khitab 5/501]

Bagaimana tidak bahagia, ketika menangis, ia ingat bahwa mata yang menangis karena Allah tidak akan tersentuh api neraka.

Dan sabda beliau Shallallâhu ‘alaihi wa sallam

عينان لا تمسهما النار ، عين بكت من خشية الله ، وعين باتت تحرس في سبيل الله

“Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam (jihad) di jalan Allah.” [HR. Tirmidzi, shahih]

Dengan latihan merasa bahagia ketika menyendiri dengan berkhalwat bersama Allah, kita akan terlatih juga saat-saat sendiri kelak di hari kiamat. Misalnya saat-saat sendiri di kubur, tidak ada yang menemani kecuali amalnya dan tentunya dengan rahmat dan kasih sayang Allah.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﻳَﺘْﺒَﻊُ ﺍﻟﻤَﻴِّﺖَ ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻓَﻴَﺮْﺟِﻊُ ﺍﺛْﻨَﺎﻥِ ﻭَﻳَﺒْﻘَﻰ ﻣَﻌَﻪُ ﻭَﺍﺣِﺪٌ ﻳَﺘْﺒَﻌُﻪُ ﺃَﻫْﻠُﻪُ ﻭَﻣَﺎﻟُﻪُ ﻭَﻋَﻤَﻠُﻪُ ﻓَﻴَﺮْﺟِﻊُ ﺃَﻫْﻠُﻪُ ﻭَﻣَﺎﻟُﻪُ ﻭَﻳَﺒْﻘَﻰ ﻋَﻤَﻠُﻪُ

“Yang mengikuti mayit ke kuburnya ada tiga, lalu dua kembali dan yang tinggal bersamanya hanya satu; yang mengikutinya adalah keluarganya, hartanya dan amalnya, lalu kembali keluarga dan hartanya, dan yang tinggal hanya amalnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikian juga seseorang akan sendiri saja memikirkan nasibnya di hari kiamat. Tidak ada tempat berbagi, curhat, musyawarah dan bercerita kepada keluarga dan manusia yang lainnya, karena manusia sibuk memikirkan urusannya masing-masing, bahkan seseorang akan lari dari keluarga dan anak-istrinya karena takut diminta pertangungjawaban.

Allah berfirman,

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ﴿٣٤﴾ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya. [QS Abasa/80:34-35]

Salah satu waktu bahagia adalah ketika sendiri dan melakukan muhasabah terhadap diri sendiri ketika di saat sepi dan berkhalwat bersama Allah. Hendaknya kita punya waktu-waktu khusus yang kita jadwal untuk melakukan muhasabah, bukan waktu-waktu sisa dari urusan dunia kita.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

ﻻﺑﺪ ﻟﻠﻌﺒﺪ ﻣﻦ ﺃﻭﻗﺎﺕ ﻳﻨﻔﺮﺩ ﺑﻬﺎ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻓﻲ ﺩﻋﺎﺋﻪ ﻭﺫﻛﺮﻩ ﻭﺻﻼﺗﻪ ﻭﺗﻔﻜﺮﻩ ﻭﻣﺤﺎﺳﺒﺔ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﺇﺻﻼﺡ ﻗﻠﺒﻪ

“Hendaklah seorang hamba memiliki waktu-waktu khusus menyendiri untuk berdoa, shalat, merenung, muhasabah dan memperbaiki hatinya”. (Majmu’ Fatawa 10/637).

 Salam Ina

Saturday, June 20, 2020

Wisuda SMA

Alhamdulillah, di tanggal cantik ini 20-06-20 (20 Juni 2020) wisuda SMA anak bungsuku Fathur dapat berlangsung juga. Suasana wisuda yg sederhana dengan protocol covid19, masing-masing anak sudah diberi nomor urut termasuk tempat parkir mobil di tepi jalan untuk menunggu giliran.

Siswa dipanggil satu persatu sesuai urutan,  ketika gilirannya tiba .. dengan bermobil siswa diturunkan di pos 1 lalu siswa menuju podium untuk  mengikuti prosesi wisuda yang dilakukan di halaman sekolah. Sedangkan orang tua diturunkan di pos 2 sambil menunggu untuk berfoto dengan anaknya setelah selesai prosesi wisuda. Alokasi waktu prosesi wisuda dan foto-foto untuk masing-masing siswa sekitar 5 menit. Salut untuk panitia wisuda yang sudah membuat prosedur sedemikian rupa sehingga physical dan social distancing tetap terjaga.

Karena situasi covid19 ini tidak ada perayaan wisuda seperti biasanya, tidak ada foto bersama teman2 dan guru2, tidak ada acara kesenian dan makan-makan .. tidak ada tawa ceria .. sedih memang, tapi harus diterima dengan lapang dada. Semoga anak-anak tetap semangat ya.  Kamipun lupa untuk foto2 secara pribadi .. hanya dapat satu foto wisuda dari panitia, itupun setelah minta-minta ke panitia melalui WA grup. Sedangkan dokumentasi wisuda yang lengkap baru akan dibagikan bersamaan dengan ijazah .. wah sudah keburu kadaluarsa untuk diposting di FB dan media sosial lainnya bagi emaknya yang rada narsis ini he..he.

Selamat ya nak .. tantangan dan perjuangan selanjutnya lebih berat, semoga Fathur diterima di Universitas Negeri dan Jurusan yg diinginkan. Alhamdulillah, saat ini sebenarnya Fathur sudah tercatat sebagai mahasiswa Undip jurusan Teknik Kimia kelas Internasional, namun emaknya berharap Fathur kuliahnya jangan jauh-jauh he..he tetap berada di dekatnya. Untuk itu dia tetap mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi nasional melalui UTBK dan test mandiri lainnya seperti SIMAK UI dll. Semoga bisa diterima di UI atau ITB ya nak, sehingga Fathur tidak perlu merantau dan tidak terlalu jauh dari rumah. Aamiin Ya Rabbal’alamin.

Salam Ina

Wednesday, June 10, 2020

Tiga Musibah Setiap Hari

Dapat tulisan tentang "Tiga Musibah Setiap Hari" dari salah satu WA grup yang aku ikuti, perlu ditulis di sini untuk mengingatkan diri sendiri dan mungkin bagi yang membaca blog ini.

Pada dasarnya....
Ada tiga musibah setiap hari dalam kehidupan ini
Yang menimpa kita sebagai hamba-Nya.

Tetapi sayang...
Sebagian dari kita tidak menyadari,
Bahkan sebagian dari kita tidak bisa mengambil hikmahnya.

Musibah pertama......

Setiap hari jatah usia kita terus berkurang
Tetapi berkurangnya usia ini lepas dari perhatian.

Sementara itu....
Ketika harta yang berkurang
Perhatian kita sangatlah luar biasa,
Padahal harta yang hilang bisa diganti
Sementara umur yang hilang tidak akan ada gantinya.

Musibah ke dua.....

Setiap hari kita hidup dengan rizki dari Nya
Sementara kita lalai dan lalai....,
Bahwa setiap rizki yang ada
Kelak akan dihisab oleh Nya.

Apabila rizki itu halal
Kelak akan ditanya....
Sudahkah kita mensyukurinya ?.

Apabila rizki itu haram.....
Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala kelak mengadzab kita.

Musibah ke tiga.....

Disadari atau tidak,
Setiap hari kita melangkah mendekati akhirat,
Sebagaimana juga kita terus melangkah menjauhi dunia.

Tetapi perhatian kita terhadap akhirat yang kekal
Tidak sebesar perhatian kita terhadap dunia yang fana.

Sementara kita tidak tahu
Bagaimana akhir perjalanan kita kelak,
Apakah akan menjadi penghuni surga
Dengan segala keindahan dan kenikmatannya,
Ataukah menjadi penghuni neraka
Tempat segala adzab dan siksanya.

Sebanyak apapun harta dunia terkumpul,
Atau sebanyak apapun penghargaan dan jabatan teraih,
Semua tidak seindah kenikmatan yang menjadi impian
dan dambaan Nabi Yusuf Alaihi Salaam :

 تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ

"Yaa Allah aku memohon padaMu....
Agar engkau mewafatkanku dalam keadaan Islam
Dan kumpulkanlah aku di surgaMu
Bersama hamba-hambaMu yang sholeh."
(QS. Yusuf : 101).

Sungguh !
Alangkah sedihnya hati ini....
Mendengar ungkapan Syeikh Muhammad Bin Sholeh Al Utsaimin:
"Apabila engkau merasa malas melakukan ketaatan,
Maka waspadalah......
Bisa jadi Allah tidak suka kepada ibadahmu."

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

وَلَٰكِن كَرِهَ اللَّهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ   ..................

..........."Allah benci terhadap ibadah mereka (orang-orang munafik)....Dengan sebab itu Allah palingkan mereka dari ibadah tersebut."
(QS. At Taubat : 46).

Yaa Allah.......
Jangan engkau jadikan dunia ini impian terbesar kami,
Dan jangan pula dunia ini menyita waktu kami...

Ya Allah.......
Jangan jadikan neraka sebagai akhir dari perjalanan kami,
Dan jadikan surgaMu sebagai rumah peristirahatan terakhir kami.....

Aamiin Ya Rabbal'alamin

Salam Ina