Wednesday, August 29, 2012

Mudik ke Aceh dan Medan

Mumpung masih di dalam bulan Syawal 1433 H, kepada semua pembaca blog ini, kami mohon diberikan maaf lahir & bathin atas segala kesalahan yang mungkin kami lakukan baik disengaja maupun tidak. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah Ramadhan bagi yang melaksanakannya dan tetap istiqamah di bulan-bulan selanjutnya.

Libur lebaran kali ini kami sekeluarga mudik ke Aceh dan Medan, sejak pindah ke Jakarta tahun 2000 yang lalu, baru kali ini kami pulang ke Aceh bersama-sama2, bahkan untuk Fathur ini kali pertama dia pulang ke kampung halaman mamanya.

Kami berangkat ke Aceh setelah selesai sholat Idul Fitri di sekitar rumah di Bintaro, jadwal pesawat sekitar jam 12-an, ternyata pesan taxi di hari lebaran pertama agak susah juga. Tadinya kami mau naik mobil yang agak besar, tapi pihak taxi tidak dapat memastikan tersedianya sopir di hari lebaran pertama tersebut, akhirnya kami memesan taxi biasa tapi 2 unit, karena kalau hanya 1 taxi nggak bakalan cukup untuk kami berlima ditambah 5 koper pakaian

Suasana di bandara Soeta tidak seramai hari2 hebohnya mudik menjelang lebaran, sehingga setelah check in kami sempat duduk2 di lounge menunggu keberangkatan. Ketika mendekati jam boarding, kami langsung masuk ke ruang tunggu biar dapat tempat duduk, ternyata pesawatnya delay sekitar 1 jam, harus nunggu lagi ... tapi lumayan juga sih, dengan delay ini kami bisa sholat jamak dzuhur dan ashar di bandara.

Pesawat transit di bandara Polonia Medan selama lebih kurang 30 menit, mau ke toilet waduh agak jorok, akhirnya karena sudah sangat mendesak, kami antri di kamar mandi untuk orang cacat, lumayan bersih ... untung saat itu tidak ada orang yang menggunakan toilet ini, maafkan ... kami terpaksa memakai hak orang2 cacat.

Pesawat mendarat di Banda Aceh sekitar pukul 17.30, ada mobil jemputan dari hotel Hermes yang telah kami pesan sebelumnya. Kami langsung ke hotel, setelah check in dan istirahat sebentar, kami sholat jamak maghrib dan isya. Malam itu kami makan di hotel karena tidak ada warung/resto yang buka, ternyata makanannya ok juga, ada mie Aceh, lumayan enak dan porsinya besar. Setelah makan, adik-adikku datang menjemput, lalu kami bersilaturrahmi ke saudara-saudara sepupu yang ada di Banda Aceh. Oh ya adikku yang di Medan ikut berlebaran bersama2 di Banda Aceh, dia menginap di rumah adik bungsuku yang tinggal di Banda Aceh.


Keesokan harinya kami jalan2 dan foto2 di mesjid raya, tempat kapal nelayan yang terdampar di rumah penduduk, ziarah ke kuburan ibunda dan kakakku tercinta serta silaturrahmi ke saudara-saudara lainnya. Kota Banda Aceh sudah tertata rapi dan bersih dibandingkan kunjunganku tahun 2009 yang lalu. Selama berada di Aceh, kami sewa mobil untuk jalan2, karena dalam suasana lebaran harga sewa mobil juga naik .. untuk mobil Avanza harga sewa plus supir Rp. 450.000 perhari, belum termasuk bensin dan makan supir serta penginapan supir jika bermalam di luar kota.

Hari raya ketiga, paginya kami jalan2 ke museum tsunami, PLTD apung dan tentu saja mencari kopi Aceh ... karena lebaran warung kopi ulee kareng juga masih tutup, jadi kami minum kopi di warung lainnya, anak2 jadi doyan minum kopi susu terutama Fathur. Siangnya sekitar pk 14:30 kami berangkat ke Bireuen, karena orang tua kami sudah tidak ada, rumah orang tua yang disewakan sejak ibunda meninggal dunia dalam keadaan kosong menunggu penyewa berikutnya, kamipun menginap di hotel Graha Buana. Perjalanan Banda Aceh - Bireuen sekitar 7 jam dan singgah di beberapa tempat untuk minum dan buang air kecil.

Di Bireuen kami berkunjung ke rumah miwa dan saudara2 yang lain serta ziarah ke kuburan nenek dan saudara2 lainnya yang sudah meninggal dunia. Sore harinya kami berangkat ke Matang Glumpang II sekitar 1/2 jam dari Bireuen untuk ziarah ke makam ayahku tercinta, lalu perjalanan dilanjutkan ke Lhokseumawe. Di Lhokseumawe kami menginap di Wisma Kuta Karang, oh ya tarif hotel di Bireuen dan Lhokseumawe Rp. 300 ribuan perkamar. Acara utama di Lhokseumawe tetap silaturrahmi ke saudara2, kami juga menyempatkan diri melihat komplek perumahan Arun, tempat Afifa dan Hifzhan dulu dilahirkan, bersekolah TK dan SD sampai kelas 1, sebelum pindah ke Jakarta.

Wisata kuliner di Aceh tidak dapat terlaksana karena banyak resto yang belum buka, selain itu kami selalu ditawari makan oleh saudara2 yang dikunjungi, sehingga tidak ada alasan untuk jajan mencari makanan di resto :), lain kali harus pulang ke Aceh lagi nih pada saat bukan lebaran.

Hari Kamis siang tanggal 23 Agustus 2012 pk 14:00, kami berangkat ke Medan menggunakan mobil sewa L-300 AC, harga sewa mobilnya Rp. 800 ribu dengan kapasitas 7 tempat duduk. Adikku yang tinggal di Medan ikut bersama kami pulang ke Medan, sedangkan adikku yang tinggal di Banda Aceh kembali pulang ke Banda Aceh. Perjalanan Lhokseumawe - Medan ditempuh dalam waktu sekitar 9 jam, karena jalanan lumayan rame, kami singgah makan malam di Langsa di resto Renggali, makanannya sih standard aja tapi toiletnya bersih banget.

Kami sampai di Medan sekitar pk 23:00, langsung menuju hotel Grand Aston yang terletak di depan Merdeka Walk yang merupakan tempat jajan/kuliner di kota Medan. Hotel Grand Aston yang kami tempati merupakan apartemen dengan 3 kamar sehingga cukup untuk kami berlima ditambah adikku 1 orang. Selama di Medan kami juga menyewa mobil Daihatsu Luxio dengan tarif Rp. 250 ribu dan supir Rp 100 ribu per hari.

Acara utama di Medan tetap silaturrahmi ke saudara-saudara suami dan saudara2ku yang tinggal di Medan. Selain itu juga jalan2 untuk berfoto ria di istana Maimun, mesjid raya dan tentu saja kuliner, mencicipi makanan2 khas seperti sate Padang Waspada yang enak banget, mie Aceh Titi Bobrok, sop sumsum Langsa, sate kerang dan juga durian Ucok. Sarapan pagi di hotel Grand Aston juga cukup beragam dan enak2 ... ada lontong sayur Medan, dimsum, sushi, mie ayam, nasi & lauk-pauknya juga western food seperti roti, kentang dan sosis juga tersedia.


Hari Senin siang tanggal 27 Agustus 2012 kami kembali pulang ke Jakarta, anak2 terpaksa bolos 1 hari karena tidak dapat tiket pesawat untuk hari minggunya. Kami tiba di Jakarta pk. 18.25, ternyata taxi Laks yang biasa kami pesan tidak tersedia, sehingga kami mencari taxi lainnya yang besar ... akhirnya dapat taxi Tiara Express dengan tipe mobil mercy untuk kapasitas 6 penumpang, asyik juga naik mobil mewah ini he...he, ongkos taxinya sampai Bintaro sekitar Rp. 275.000, lumayan murah dibandingkan naik 2 buah taxi yang biasa.

Usai sudah libur lebaran selama sekitar 8 hari yang cukup berkesan, anak2pun senang sekali bisa melihat kampung halaman mamanya (Aceh) dan tempat papanya dibesarkan (Medan).

Salam Ina