Sunday, March 30, 2014

Masjid di Negara-Negara ASEAN

Posting kali ini merupakan hasil googling tentang keberadaan masjid-masjid di berbagai ibukota negara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau ASEAN. Negara-negara yang menjadi anggota ASEAN saat ini terdiri dari 10 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei, Vietnam, Myanmar, Kamboja dan Laos. Masjid-masjid ini juga menjadi salah satu ikon dari ibukota negara-negara ASEAN tersebut. 

Jakarta (Indonesia) - Masjid Istiqlal
Pembangunan Masjid Istiqlal ini diprakarsai oleh Presiden RI yang pertama yaitu Ir Soekarno, peletakan batu pertama pada tanggal 24 Agustus 1961, dengan arsitek Frederich Silaban yang merupakan seorang non muslim, selaku pemenang pertama sayembara desain masjid ini.

Proses pembangunan masjid ini tidak berjalan lancar karena situasi politik saat itu dan baru dapat diresmikan pada  tanggal 22 Februari 1978 oleh Presiden RI yang ke dua yaitu Soeharto. Masjid ini termasuk salah satu masjid yang terbesar di Asia Tenggara, dengan  daya tampung jamaah sebanyak 200.000 orang yang terdiri dari: Ruang shalat utama dan balkon serta sayap memuat 61.000 orang, Ruang pada bangunan pendahuluan memuat 8.000 orang, Ruang teras terbuka di lantai 2 memuat 50.000 orang, dan koridor dan tempat lainnya memuat 81.000 orang.
Masjid Istiqlal (foto dari www.istiqlalmosque.com)
Kuala Lumpur (Malaysia) - Masjid Negara
Masjid Negara ini dibangun antara tahun 1963 sampai 27 Agustus 1965 dan dapat menampung sekitar 15000 jamaah. Desain dari masjid ini dilakukan oleh arsitek Bahagian Reka Bentuk dan Penyelidikan, Jabatan Kerja Raya Persekutuan. Sebelum memulai pembangunan masjid ini, arsitek utamanya yaitu Baharuddin Abu Kassim melakukan kajian masjid-masjid dari berbagai negara seperti India, Pakistan, Iran, Turki, Arab Saudi, UEA dan Spanyol.
Masjid Negara (foto dari kuala-lumpur.attractionsinmalaysia.com)
Bandar Seri Begawan (Brunei Darussalam) - Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien adalah masjid nasional bagi Kesultanan Brunei Darussalam, masjid ini dinamai sesuai nama Sultan Brunei yang ke 28. Masjid ini dirancang dengan gaya Mughal dan Italia oleh Biro arsitektur Booty & Edwards Chartered dengan arsitek utamanya Cavaliere Rudolfo Nolli yang berkebangsaan Italia. Masjid mewah dengan kubah berlapis emas murni ini selesai dibangun pada tahun 1958 dan menjadi salah satu masjid yang terkenal di dunia karena keindahan dan kemegahannya.
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien (foto dari en.wikipedia.org)
Singapura - Masjid Sultan
Di Singapura, ada beberapa masjid, namun, hanya Masjid Sultan di Kampong Glam, wisatawan bisa mendengar suara adzan membahana ke kawasan di sekitarnya dengan pengeras suara, karena masjid-masjid lainnya tertahan aturan dilarang adzan dengan pengeras suara sehingga suara adzannya hanya terdengar di dalam masjid saja. Masjid Sultan dibangun oleh Sultan Husaain, bersebelahan dengan istana sang sultan. Dari catatan yang ada, masjid tersebut mulai dibangun pada tahun 1824 dan selesai dua tahun setelahnya. Dana pembangunannya berasal dari sumbangan East India Company, donasi jemaah, serta dari istana sendiri.

Masjid Sultan kemudian direnovasi pada tahun 1924, bertepatan dengan 100 tahun berdirinya masjid tersebut. Selain dilakukan perluasan area untuk menambah daya tampung, bentuk dan arsitektur masjid juga mengalami perubahan. Setelah empat tahun pembangunan, berdirilah masjid seperti yang ada sekarang. Bergaya Gothik Mughal lengkap dengan menaranya dan mampu menampung 5.000 jamaah.
Masjid Sultan (foto diambil dari travel.detik.com)
Bangkok (Thailand) - Islamic Center Mosque
Meskipun Thailand merupakan negeri yang mayoritas penduduknya beragama Budha, namun kerajaan cukup mendukung kehidupan penduduk yang beragama Islam. Salah satu mesjid terbesar di Bangkok terletak di daerah Ramkhamhaeng yaitu Islamic Center Mosque Thailand yang juga merupakan kantor mufti dalam urusan agama Islam di bawah kementrian dalam negeri dan juga kementrian pendidikan dan bertanggung jawab kepada raja. Islamic Center Mosque ini selesai dibangun pada tahun 1984 dan dapat menampung sekitar 3000 jamaah.
Islamic Center Mosque (foro dari papayapokpok.wordpress.com)
Manila (Filipina) - Masjid Al-Dahab
Masjid Al-Dahab ini dibangun untuk menampung 3000 jemaah, menjadikannya sebagai bangunan masjid terbesar di kota Manila. Lengkap dengan satu kubah besar berwarna ke emasan, warna kubah dengan warna emas itulah yang kemudian menjadikan masjid ini disebut sebagai The Golden Mosque. Satu menara melengkapi masjid sebagai tempat disuarakannya azan. Masjid ini dibangun tahun 1976 pada masa Presiden Ferdinand Marcos.
Masjid Al-Dahab (foto dari www.travbuddy.com)

Hanoi (Vietnam) - Masjid Al-Noor
Di kota Hanoi, Ibukota Vietnam bersatu paska perang antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan di era 1970-an, berdiri kokoh sebuah bangunan masjid tua bernama Masjid Al-Noor atau lebih dikenal dengan nama Masjid Hanoi (Hanoi Masjid atau Hanoi Mosque). Masjid yang berdiri di kawasan old French Quarter of Hanoi city, tak jauh dari Galaxy Hotel dan Dong Xuan market ini merupakan satu satunya masjid di kota Hanoi yang merupakan sentral syiar Islam di kota Hanoi.

Masjid Al-Noor Hanoi di bangun oleh para pedagang dari anak benua India yang berasal dari Bombai, Karachi (Pakistan), dan Kalkuta di sekitar abad ke 19. Kini masjid tua ini tetap ramai jamaah terutama jamaah dari kantor kantor kedutaan Malaysia, Libya, Egypt, Lebanon, Indonesia, India, Algeria, Yemen, Iraq, Vietnam, Pakistan, Afghanistan and Bangladesh yang mencapai sekitar 200 jemaah berbaur dengan 60-an muslim asli setempat.
Masjid Al-Noor (foto dari vietnammuslimtours.net)

Phnom Penh (Kamboja) - Masjid Nurul Ihsan
Masjid Nurul Ihsan atau dikenal juga dengan nama International Dubai Phnom Penh mosque merupakan masjid terbesar di kota Phnom Penh yang terletak di tepi danau Boeng Kak. Masjid ini merupakan bantuan dari negara Timur Tengah (Uni Emirat Arab), yang dibangun pada tahun 1968, kemudian dilakukan perbaikan besar-besaran pada tahun 1990, namun dalam kurun waktu yang cukup lama, masjid ini tidak mendapatkan perawatan yang memadai sehingga terjadi kerusakan yang parah.

Seiring perkembangan kota, pemerintah Kamboja saat ini sedang giat-giatnya memoles wajah kota Phnom Penh termasuk area di sekitar masjid Nurul Ihsan ini. Rencananya masjid baru akan dibangun di lokasi yang sama, namun bangunannya berbeda dengan masjid sebelumnya. Tim ahli UEA akan terlibat langsung pada proses pembangunan dan pendanaannya. Kemungkinannya nama masjidnya akan diganti menjadi Masjid Al-Serkal sesuai dengan nama pembangunnya. Setelah selesai masjid ini akan mampu menampung sekitar 1000 jamaah.
Masjid Nurul Ihsan (foto dari bujangmasjid.blogspot.com)  
Yangon (Myanmar) - Masjid Sunni Bengali
Meskipun Islam merupakan agama minoritas di Myanmar, namun cukup banyak masjid di kota Yangon (ibukota Myanmar sampai 7 Nopember 2005, sebelum ibukota Myanmar dipindah ke Naypyidaw atau Pyinama). Walaupun tidak ada masjid Nasional di Yangon, ada masjid yang paling terkenal di Yangon yaitu Masjid Sunni Bengali. Masjid ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan karena terletak di pusat keramaian kota.
Masjid Sunni Bengali (foto dari myanmarmuslimtour.blogspot.com)
Vientiane (Laos) - Masjid Jami' Vientiane
Masjid Jami ini berada di jalur turis dan tepat berada di tengah ibukota Laos, Vientiane, tepatnya berada di belakang Langxaneg Hotel dan Fathima Restaurant, tak jauh dari Nam Phou Fountain yang merupakan air mancur kebanggaan kota Vientiane. Masjid Jami' ini dibangun dalam gaya arsitek Mughal dan merupakan masjid tertua di Vientiane maupun Laos secara keseluruhan. Masjid ini dibangun oleh muslim yang berasal dari kawasan India Selatan pada masa pendudukan Perancis pada penghujung abad ke 19, saat Laos masuk ke dalam wilayah Perancis sejak tahun 1953. Walaupun ukuran masjid ini kecil, namun masjid ini merupakan pusat edukasi bagi komunitas muslim setempat yang kebanyakan berasal dari India. 
Masjid Jami' Vientiane (foto dari bujangmasjid.blogspot.com)
Dari sepuluh masjid yang tercantum di atas, baru 3 masjid saja yang pernah aku kunjungi yaitu Masjid Istiqlal Jakarta, Masjid Negara Kuala Lumpur dan Masjid Sultan Singapura. Mudah-mudahan Allah SWT memberi kesempatan untuk berkunjung ke masjid-masjid lainnya, terutama masjid yang terkenal keindahan dan kemegahannya yaitu Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien Bandar Seri Bagwan, Brunei.
Salam Ina

Sunday, March 09, 2014

Keju

Aku suka jaipong
Kau suka disko oh oh oh..
Aku suka singkong
Kau suka keju oh oh oh..

Cuplikan lagu Singkong dan Keju di atas lumayan populer pada era tahun 1980-an yang dinyanyikan oleh almarhum Arie Wibowo. Dulu saat mendengar lagu tersebut aku setuju dengan kata-kata pada lagu tersebut "aku suka singkong"... "kau suka keju", ya iyalah soalnya waktu itu aku memang tidak suka dengan keju. Tapi sekarang lagunya jadi berubah nih  "aku suka singkong" ... "aku juga suka keju" ha..ha.

Aku nggak tahu persis kapan mulai suka makan keju, mungkin setelah ditugaskan ke Belanda beberapa bulan yang lalu. Di sana aku sempat mencicipi berbagai jenis keju ketika berkunjung ke daerah wisata Volendam, dimana salah satu tempat yang ramai dikunjungi adalah tempat pembuatan keju ala home industri, ternyata enak he..he. Aku suka makan keju sebagai cemilan, makan kejunya doang tanpa dicampur dengan roti, kalau suami dan anak-anakku dari dulu sudah suka dengan keju slices yang dimakan dengan roti.

Ada berbagai jenis keju yang tersedia di pasaran dan tentu saja penggunaannya juga tergantung jenisnya, nah info jenis keju dibawah ini dikutip dari salah satu web (Dapur Cobek) yaitu  :

1. Keju Cheddar.
Nama keju Cheddar diambil dari daerah tempat jenis keju ini dibuat, yaitu desa Cheddar di Somerset, Inggris. Keju ini sangat populer di dunia dan paling sering digunakan untuk membuat kue, roti dan juga untuk pelengkap sarapan terutama yang sudah berbentuk slice. Banyak merk yang tersedia di Indonesia dan sudah ada label halalnya yaitu Kraft, Chesdale, Anchor dsbnya, bisa dilihat disini.
2. Keju Edam.
Keju ini wujudnya berwarna kuning terang, biasanya berbentuk bulat-bulat besar seperti jeruk. Keju tradisional ini berasal dari negara Belanda. Karakteristik keju ini, bagian luarnya dilapisi paraffin berwarna  dan dari segi rasanya lembut seperti rasa kacang dan aromanya tidak terlalu menyengat. Keju ini cukup baik dikonsumsi karena kandungan lemaknya rendah, dan lebih cocok dimakan langsung daripada untuk memasak.
.

3. Keju Mozarella.
Keju ini juga sering dijumpai dan biasanya digunakan untuk masakan. Keju ini berasal dari negara Italia, dinamai Mozzarella karena proses pembuatannya keju ini diputar-putar dan dipotong (mozzare). Teksturnya lembut dan mudah dibentuk, tapi ada juga yang agak padat dan biasanya berwarna putih atau kekuningan. keju ini biasa digunakan sebagai toping untuk membuat pizza, pasta panggang, macaroni schotel, dan macam-macam makanan panggang lainnya karena keju ini akan meleleh dan menciptakan rasa yang nikmat.

4. Keju Parmesan
Keju Parmesan berasal dari kota Parma, Italia. Keju ini dijual dalam beberapa bentuk, bisanya dalam bentuk padat dan ada yang sudah diparut seperti bubuk. Texturnya padat dan agak keras karena proses pemeramannya cukup lama, bisa bertahun-tahun dan yang pasti aromanya sangat tajam. Biasanya keju ini digunakan untuk taburan dalam pasta, pizza, spageti, macaroni dan juga di sandingkan dengan keju mozzarella yang aromanya kurang kuat.

Pembuatan keju pada dasarnya sama walaupun ada ratusan jenis keju yang diproduksi di seluruh dunia. Keju memiliki gaya dan rasa yang berbeda-beda, tergantung jenis susu yang digunakan, jenis bakteri atau jamur yang dipakai dalam fermentasi, lama proses fermentasi maupun penyimpanan ("pematangan"). Faktor lain misalnya jenis makanan yang dikonsumsi oleh mamalia penghasil susu dan proses pemanasan susu. Bagaimana cara pembuatan keju ? ini dia hasil googling secara singkat cara pembuatan keju dengan  tahapan utama sebagai berikut :
  • Pengasaman : Susu dipanaskan agar bakteri asam laktat, yaitu Streptococcus and Lactobacillus dapat tumbuh. Bakteri-bakteri ini memakan laktosa pada susu dan merubahnya menjadi asam laktat.
  • Pengentalan : Bahan Koagulan / rennet ditambahkan ke dalam susu yang dipanaskan yang kemudian membuat protein menggumpal dan membagi susu menjadi bagian cair (air dadih) dan padat (dadih). Sebagian besar keju menggunakan rennet dalam proses pembuatannya. Namun zaman dahulu ketika keju masih dibuat secara tradisional, getah daun dan ranting pohon ara digunakan sebagai pengganti rennet.
  • Pengolahan dadih : Pemisahan antara bagian cair dan bagian padat (dadih), dengan bantuan sebuah alat yang berbentuk seperti kecapi, dadih keju dihancurkan menjadi butiran-butiran. Semakin halus dadih tersebut maka semakin banyak air dadih yang dikeringkan dan nantinya akan menghasilkan keju yang lebih keras.
  • Persiapan sebelum pematangan : pencetakan, penekanan dan pengasinan
  • Pematangan :  Proses yang mengubah dadih-dadih segar menjadi keju yang penuh dengan rasa. Sebelum proses pematangan dilakukan teknik-teknik khusus untuk mempengaruhi tekstur dan rasa akhir keju seperti Peregangan, Cheddaring, Pencucian dan Pembakaran.
Bagi umat muslim, tentu sangat penting untuk mengetahui apakah keju yang akan dikonsumsi tersebut halal atau tidak, karena tidak semua keju yang dijual di pasaran ada sertifikat halalnya. Manurut artikel yang dikutip dari koran Republika, tahap koagulasi atau penggumpalan susu adalah tahap yang kritis dari segi kehalalan keju karena untuk mempercepat proses penggumpalan digunakan Rennet.

Rennet adalah sekelompok enzim yang dihasilkan oleh lambung binatang menyusui untuk mencerna susu ibu. Rennet mengandung enzim proteolytic (protease) yang memisahkan susu menjadi bagian padat dan cair. Dahulu kala, rennet diperoleh dari perut sapi muda (anak sapi), sedangkan saat ini rennet diperoleh bukan hanya dari perut sapi muda, tetapi juga perut sapi dewasa, anak kambing, kambing dewasa, domba, dan babi. Halal atau tidaknya keju tersebut tergantung pada sumber rennet yang digunakan. 

Waduh jadi was-was juga nih mengkonsumsi keju yang tidak ada sertifikat halalnya, karena katanya untuk menghemat biaya produksi, sebagian produsen keju menggunakan rennet campuran yang berasal dari sapi muda dan babi, karena rennet dari sapi muda harganya lebih mahal sehingga dilakukan pencampuran rennet.

Di antara berbagai jenis keju, aku paling suka dengan keju Edam, tapi sampai saat ini belum ketemu keju Edam yang bersertifikat halal yang dijual di supermarket :(. Semoga saja semakin banyak produk-produk keju di Indonesia yang mempunyai sertifikat halal, agar konsumen muslim tidak ragu-ragu untuk makan keju yang rasanya yummi tersebut. 

Salam Ina