Wednesday, June 13, 2012

Kenangan Lama

Dengan adanya internet dan Mr Google, terpikir olehku untuk searching nama keluarga angkatku di Jerman dengan nama belakang "Mifka", keluarga ini pernah menampung aku beberapa tahun yang lalu, tahun 1982. Saat itu aku mendapat kesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar yang diselenggarakan atas kerja sama pemerintah Jerman dan Indonesia melalui DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst) atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai German Academic Exchange Service. 

Sayangnya hasil searching tersebut hanya mendapatkan data alamat apotik dengan nama pemilik Karin Mifka, memang keluarga angkatku itu dulu mempunyai apotik karena si ibu memang berprofesi sebagai apoteker sedangkan ayah angkatku berprofesi sebagai guru. Nah nama anaknya yang sebaya denganku dan menjadi saudara angkatku itu adalah Karin Mifka, mungkin sekarang dijadikan nama untuk apotiknya. Duh jadi kepengen ketemu lagi dengan Karin, bagaimana dia sekarang ? anaknya berapa ? apa profesinya ?, banyak banget pertanyaan yang muncul dan belum terjawab. Tadinya aku berharap dari searching internet tersebut dapat menemukan halaman facebooknya sehingga kami bisa berkomunikasi kembali, paling tidak bisa melihat foto2nya.

Kenangan lama .. 30 tahun yang lalu terbayang kembali, saat itu aku bersekolah di SMA Negri Lhokseumawe (sekarang SMA Negri 1) kelas 2 IPA3. Pada saat akhir semester 1, tiba2 ada pengumuman untuk ikut test Bahasa Jerman untuk program pertukaran pelajar ke Jerman, yang diikuti oleh murid kelas 2 dari sekolah SMA yang memberikan pelajaran Bahasa Jerman kepada murid-muridnya. Di Aceh saat itu, hanya beberapa sekolah SMA saja yang mengajarkan pelajaran bahasa Jerman sebagai tambahan, Alhamdulillah tanpa disangka2 aku terpilih sebagai salah satu murid yang dapat mengikuti test lanjutan di Banda Aceh. 

Test lanjutan tersebut berupa wawancara dengan native speaker dari konsulat Jerman yang datang dari Medan, aku lupa nama beliau he..he. Kebayang deh bingungnya karena walaupun di sekolah kami belajar Bahasa Jerman, tapi masih terbata2 kalau berbicara dalam bahasa tersebut, apalagi mendengar dan berbicara langsung dengan native speakernya. Test lanjutan ini hanya diikuti oleh 5 orang (3 orang dari Lhokseumawe dan 2 orang dari Banda Aceh) dan mungkin karena aku satu2nya perempuan, sehingga aku termasuk yang terpilih untuk ikut ke Jerman. Dari Aceh terpilih 3 orang yaitu 2 orang dari Lhokseumawe (aku dan temanku Win Konadi) serta 1 orang dari Banda Aceh (Zulkhairi namanya). 

Program pertukaran pelajar yang aku ikuti itu merupakan angkatan ke 2, dimana seleksinya hanya ditujukan kepada 2 propinsi saja di Indonesia pada setiap angkatannya (kalau tidak salah angkatan sebelumnya berasal dari propinsi Jawa Barat dan Bali), sedangkan pada tahun ajaran 1981/1982 itu yang kebagian adalah Propinsi Aceh dan Sumatera Utara. Aku sangat bersyukur bisa memperoleh kesempatan yang tidak disangka-sangka itu, sampai-sampai orang tuaku tidak percaya dan menyangka aku bercanda, ketika aku bilang bahwa pada liburan semester 2 tahun 1982 aku akan ke Jerman selama 1 bulan. Mereka baru percaya ketika sekolahku menyampaikan berita ke orang tua untuk mengurus paspor dan memproses keberangkatanku ke Jerman dengan menghubungi konsulat Jerman yang ada di Medan. 

Akhirnya hari keberangkatan ke Jermanpun tiba, kami berkumpul di Medan untuk berangkat ke Jakarta. Dari Sumatera Utara terpilih 5 orang pelajar (4 orang dari Medan dan 1 orang dari P. Siantar) serta 1 orang guru dari P. Siantar, sehingga total yang berangkat dari propinsi Sumatera Utara dan Aceh adalah 8 orang pelajar (4 putra dan 4 putri) serta seorang guru. Di Jakarta kami mengurus segala sesuatunya di Kedutaan Jerman, itu pertama kalinya aku ke luar negeri bahkan baru pertama kali pula ke ibu kota RI ... Jakarta, maklumlah "orang kampung" he..he, untung ada saudara yang bersedia mengantar kesana dan kemari dalam pengurusan keberangkatan tersebut. 

Kami berada di Jerman selama kurang lebih 1 bulan, berkeliling ke beberapa kota antara lain Frankfurt (sebagai transit kedatangan dan keberangkatan dan hanya di airportnya saja), Bonn, Koln, Munchen, Kenzingen dan Berlin, juga sempat ke kota perbatasan di Swiss (Basel) dan salah satu kota tua di wilayah Alsace (Perancis). Saat itu Jerman belum bersatu, masih ada Jerman Barat dan Jerman Timur, kota Berlin-pun masih terbagi dua oleh tembok Berlin yang masih tegak dengan utuhnya. Di tembok Berlin di sisi Jerman Barat disediakan tangga2 yang dapat dipakai turis untuk mengintip suasana di sebalik tembok yang berada di sisi Jerman Timur ... yang dipenuhi dengan ranjau dan kawat berduri serta penjagaan yang ketat, disini kita banyak mendengar kisah sedih kematian orang2 Jerman Timur yang berniat menyebrang ke Jerman Barat, karena ditembak atau terkena ranjau dan nama-nama mereka diabadikan di tembok di sisi Jerman Barat. 

Kami juga sempat berkunjung ke Berlin Timur yang termasuk blok Komunis, perbedaan antara Berlin Barat dan Berlin Timur begitu kentara ... di Berlin Barat kotanya gemerlapan dan modern serta penuh kebebasan, sedangkan Berlin Timur kotanya agak suram, mobil-mobilnya kuno dan berwarna kusam serta dimana-mana dijaga oleh tentara yang berwajah sangat dingin (dari Rusia kali ya karena waktu itu masih era perang dingin antara blok Barat diwakili Amerika dan blok Komunis diwakili Rusia). 

Selain itu, kami juga ada berkunjung ke concentration camp Dachau dan Auschwitz yaitu tempat pembantaian kaum Yahudi yang terjadi pada eranya Hitler, duh ngeri banget melihat tempat tersebut. Di Munchen kami bertemu dengan pelajar-pelajar lainnya dari seluruh dunia pada acara api unggun bersama-sama, saling bertukar cerita. Di Munchen atau di Berlin ya (agak lupa nih), aku ditempatkan sekamar dengan pelajar dari Tunisia namanya kalau tidak salah ... Rima, lucu juga mengingat teman2 dari Tunisia ini, karena hampir setiap malam mereka keluar kamar untuk pergi ke diskotik karena di negaranya katanya hal tersebut tidak diperbolehkan. Oh ya kami juga sempat naik gunung yang ada saljunya walaupun saat itu musim panas yaitu Zugspitze. 

Ketika berkunjung ke kota-kota tersebut di atas, kami yang dari Indonesia selalu bersama-sama dan tinggal di hotel yang sama, kecuali ketika berada di Kenzingen, disini kami dijemput oleh orang tua angkat yang telah ditentukan dan tinggal secara terpisah di keluarga angkat masing-masing. Sedih juga sih karena selama ini kami berdelapan sudah kompak dan malah lebih sering berbicara dalam Bahasa Indonesia dibandingkan Bahasa Jerman terutama jika tidak ada pembimbing native speakernya di sekitar kami ha..ha. Di Kenzingen ini, kami tinggal selama 2 minggu dan ikut bersekolah di Gymnasium (sekolah lanjutan) dan mau tidak mau harus berbicara dalam bahasa Jerman. 

Kenzingen adalah kota kecil yang termasuk dalam distrik Emmendingen, negara bagian Baden-Württemberg. Nah di Kenzingen ini aku ditempatkan pada keluarga angkat yang aku ceritakan pada paragraf di atas. Orang tua angkatku itu hanya mempunyai 2 orang anak, yaitu Karin Mifka dan abangnya, karena jarak umur mereka berjauhan, saat itu abangnya Karin sudah menikah dan tinggal di Tokyo, sehingga aku tidak sempat berkenalan dengannya. Di rumah itu hanya ada ayah dan ibu angkatku serta Karin dan selama 2 minggu ada tambahan anggota dari Indonesia yaitu aku. Orang tua angkatku itu masih kuno (menurut anaknya lho) karena tidak membolehkan Karin keluar malam dan bermalam di luar rumah, sementara teman-temannya yang lain banyak yang diam-diam keluar rumah di malam hari untuk menginap bersama pacar mereka. 

Aku bersyukur dapat orang tua angkat yang masih kuno tersebut karena sesuai dengan kebudayaan kita di Indonesia, sehingga aku tidak merasa asing berada di rumah mereka. Di rumah ini aku juga ikut membantu pekerjaan di dapur seperti memasak, menyapu dan mencuci piring karena tidak ada pembantu dan ibu angkatku juga bekerja di apotik miliknya. Kadang2 di sore hari pulang sekolah dan hari libur, aku dan Karin ikut ke apotik dan melayani pembeli yang datang he..he. Sangat menyenangkan tinggal di Kenzingen ini, penduduknya ramah dan suka menyapa aku ketika bertemu saat pergi & pulang sekolah. Kebetulan tempat tinggalku tidak terlalu jauh dari sekolah, jadi bisa berjalan kaki atau naik sepeda. Teman-temanku yang lain ada yang harus naik mobil atau kereta api untuk sampai ke sekolah. 

Aku berharap, semoga aku masih bisa dipertemukan kembali dengan Karin Mifka, walaupun lewat dunia maya ... aku akan coba searching lagi di internet dan mungkin menelponnya jika ada nomor telpon yang dapat kuperoleh. Kalau orang tua angkatku mungkin saja sudah meninggal, karena pada tahun 1982 itu usia mereka sudah mendekati 60-an. Terima kasih atas kebaikan keluarga Mifka yang bersedia menjadi orangtua angkatku dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Indonesia, Pemerintah Jerman dan DAAD yang telah memberikan pengalaman yang berharga dan menyenangkan bagiku selama mengikuti program tersebut dengan gratis dan malah dapat uang saku setiap harinya dari orang tua angkatku yang baik hati itu. 

Salam Ina

Note : gambar peta merupakan "copy paste" dari  http://www.worldatlas.com/webimage/countrys/europe/de.htm

1 comment:

Unknown said...

Pengalaman kak ina ini membuat kita sekeluarga sangat bangga waktu itu, kami bersyukur dan bangga memiliki saudara yg pintar dan baik seperti kak ina..hehe. Ipa doakan smg kak ina segera bisa menemukan Karin Mifka saudara angkat kakak itu walo hanya di dunia maya.